MAKALAH OBSTETRI : PREEKLAMSIA & EKLAMSIA
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Angka kematian ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, melahirkan dan masa nifas. Penyebab tingginya angka kematian ibu juga terutama disebabkan karena faktor non medis yaitu faktor ekonomi, sosial budaya, demografi serta faktor agama. Sebagai contoh banyak kaum ibu yang menganggap kehamilan sebagai peristiwa alamiah biasa padahal kehamilan merupakan peristiwa yang luar biasa sehingga perhatian terhadap kesehatan ibu hamil harus diperhatikan. Rendahnya pengetahuan ibu terhadap kesehatan reproduksi dan pemeriksaan kesehatan selama kehamilan juga menjadi sebab tingginya kematian ibu selain pelayanan dan akses mendapatkan pelayanan kesehatan yang buruk. (Ketut Sudhaberata,2006)
World Health Organization (WHO) memperkirakan 585.000 perempuan meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan, proses kelahiran dan aborsi yang tidak aman. Sekitar satu perempuan meninggal setiap menit. (WHO,2004)
Negara - negara di Asia termasuk Indonesia adalah negara dimana warga perempuannya memiliki kemungkinan 20-60 kali lipat dibanding negara-negara Barat dalam hal kematian ibu karena persalinan dan komplikasi kehamilan. Di negara-negara yang sedang berkembang, angka kematian ibu berkisar 350 per 10.000 kematian. Angka kematian ibu di Indonesia adalah 470 per 100.000 kelahiran. Angka yang sangat mengkhawatirkan karena meningkat dari angka yang tercatat peda beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 1997, AKI mencapai 397 orang per 100.000 kelahiran yang berarti bertambah sekitar 73 orang.
Dari lima juta kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya,diperkirakan 20.000 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Dengan kecenderungan seperti ini, pencapaian target MDG untuk menurunkan AKI akan sulit bisa terwujud kecuali apabila dilakukan upaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya.
Data menunjukkan sebagian besar kematian terjadi pada masyarakat miskin dan mereka yang tinggal jauh dari Rumah Sakit. Penyebab kematian ibu yang utama adalah perdarahan, eklampsia, partus lama, komplikasi aborsi, dan infeksi. Kontribusi dari penyebab kematian ibu tersebut masing-masing adalah perdarahan 28 %, eklampsia 13 %, aborsi yang tidak aman 11%, serta sepsis 10 %. Salah satu penyebab kematian tersebut adalah Preeklampsia dan eklampsia yang bersama infeksi dan pendarahan, diperkirakan mencakup 75 - 80 % dari keseluruhan kematian maternal. Kejadian preeklampsi - eklampsi dikatakan sebagai masalah kesehatan masyarakat apabila CFR PE-E mencapai 1,4%-1,8%. (Zuspan F.P, 1978 dan Arulkumaran ,1995)
Penelitian yang dilakukan Soedjonoes pada tahun 1983 di 12 RS pendidikan di Indonesia, di dapatkan kejadian PE-E 5,30% dengan kematian perinatal 10,83 perseribu (4,9 kali lebih besar di banding kehamilan normal). Sedangkan berdasarkan penelitian Lukas dan Rambulangi tahun 1994, di dua RS pendidikan di Makassar insidensi preeklampsia berat 2,61%, eklampsia 0,84% dan angka kematian akibatnya 22,2%.Target penurunan angka kematian ibu menjadi 124 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 tidak mudah tercapai mengingat sistem pelayanan obsentri emerjensi masih lemah. Akhirnya yang harus diingat dari informasi diatas adalah sesungguhnya masalah kematian ibu bukanlah masalah ibu sendiri akan tetapi merupakan masalah internasional dimana setiap negara seharusnya memiliki tanggung jawab untuk menanggulangi dan mencegah kematian ibu.
2. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang dirangkum dalam latar belakang makalah ini adalah merumuskan masalah tentang Pre-Eklamsi dan Eklamsia yang menyebabkan angka kematian ibu meningkat.
3. Tujuan.
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memahami definisi Pre-Eklamsia dan Eklampsia.
2. Untuk memahami Klasifikasi dan Macam-macam Pre-Eklamsia dan Eklampsi
3. Untuk memahami Tanda dan gejala Pre-Eklamsia dan Eklampsi.
4. Untuk memahami komplikasi yang terjadi pada Pre-Eklamsia dan Eklampsi.
5. Untuk memahami bagaimana penatalaksanaan pada Pre-Eklamsia dan Eklampsi.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Pre-Eklamsia dan Eklamsia
Preeklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri.
Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblastik.
Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang atau koma. Sebelumnya wanita tadi menunjukkan gejala-gejala Preeklampsia.
Pre eklamsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai dengan proteinuria, edema atau kedua-duanya yang terjadi akibat kehamilan setelah minggu ke 20 atau kadang-kadang timbul lebih awal bila terdapat perubahan hidatidiformis yang luas pada vili dan korialis (Mitayani, 2009).
Preeklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria, dan edema yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke tiga pada kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa. (Rukiyah, 2010).
Pre-eklampsia adalah salah satu kasus gangguan kehamilan yang bisa menjadi penyebab kematian ibu. Kelainan ini terjadi selama masa kehamilan, persalinan, dan masa nifas yang akan berdampak pada ibu dan bayi.
Eklampsi dalam bahasa yunani ialah "halilintar" karena serangan kejang-kejang timbul tiba-tiba seperti petir.
Eklampsi merupakan kondisi lanjutan dari preeklampsi yang tidak teratasi dengan baik. Selain mengalami gejala preeklampsi eklampsi merupakan penyakit akut dengan kejang dan demam dalam wanita hamil dan wanita nifas, disertai dengan hipertensi, odem, protein urine positif, eklampsi juga dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian baik sebelum, saat atau setelah melahirkan.
2. Etiologi Eklampsi dan pre-eklampsia
1. Eklampsi
Tidak ada kehamilan tanpa risiko. Pembagiannya, risiko rendah dan risiko tinggi. Eklampsia merupakan komplikasi yang berat dan mengancam nyawa seseorang. Tanda-tanda serangan eklampsia ada tapi perubahannya sangat cepat dan ditandai dengan adanya kejang. "Sebelum kejang, ada tanda. Misalnya, ketegangan di daerah otot muka. Tetapi, itu terjadi sekian detik sebelum kejang yang sifatnya kaku dan lemas.
Sebagian besar eklampsia adalah lanjutan perburukan, ada yang berat, ada juga yang ringan. Eklampsia merupakan kumpulan gejala, yang utama tekanan darah tinggi dan adanya protein dalam urin. Pada eklampsia ringan, tekanan darah 140/90 s.d. < 160/110 dan eklampsia berat, tekanan darah > 160/110.Eklampsia selalu terjadi pada ibu hamil. Kalau terjadi darah tinggi di luar kehamilan, bukan disebut eklampsia tapi hipertensi atau penyakit lain seperti nefrotik syndrom. "Karena, penyebab eklampsia adalah kehamilan itu sendiri," Jika ibu hamil mengalami darah tinggi sebelum umur kehamilan 20 minggu disebut hipertensi dan kemungkinan ia menderita hipertensi sebelum hamil. Tetapi, kalau mengalami darah tinggi pada usia kehamilan minimal 20 minggu atau lebih, kemungkinan eklampsia,"
Ada teori yang mengatakan, eklampsia disebabkan karena kekurangan nutrisi. Pada kelompok ibu-ibu yang mengalami kekurangan nutrisi, kasus meningkat lebih tinggi. Tetapi lagi-lagi, tidak semua ibu yang kekurangan nutrisi mengalami eklampsia. Bahkan, ada juga ibu-ibu dengan asupan nutrisi memadai, namun mengalami eklampsia.
Kasus eklampsia juga banyak terjadi pada ibu-ibu dengan kehamilan pertama dibandingkan ibu pada kehamilan kedua atau ketiga. Hal itu diduga karena pengaruh sperma. "Masalahnya, sperma dianggap benda asing. Sistem imun ibu bekerja untuk melawannya," Karena itu, dianjurkan pada pasangan yang baru menikah menunda kehamilan enam bulan atau satu tahun agar tubuh ibu mengenal sperma ayah. "Selain itu kan ada manfaat lain, bisa saling mengenal kepribadian, membangun kebersamaan, dan mempersiapkan finansial keluarga yang baik lebih dulu,"
Selain itu, banyak kasus preeklampsia terjadi pada wanita berusia muda dan hamil pada usia terlalu tua. Misalnya, hamil di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun. Pada usai muda, sistem imun tubuh belum bagus, sedangkan pada usia terlalu tua, penyakit mulai muncul seperti pembuluh darah mulai menyempit, kelainan metabolik, diabetes, gangguan ginjal, hipertensi. "Ini menyebabkan risiko pada ibu dan janin. Eklampsia sangat membahayakan''
Eklampsia bisa dicegah. Peluang terjadinya eklampsia meningkat pada orang yang memunyai kelainan pembuluh darah menetap, punya penyakit hipertensi kronis, penyakit diabetes, kelainan pada ginjal, penyakit trombopili, atau pada kehamilan kembar dan kehamilan anggur. "Karena ari-ari pada bayi kembar akan lebih besar daripada kehamilan tunggal. Makin besar plasenta, makin besar peluang akar-akar plasenta rusak,"
2. Pre-eklampsia
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Secara teoritik urutan urutan gejala yang timbul pada preeklamsi ialah edema, hipertensi, dan terakhir proteinuri. Sehingga bila gejala-gejala ini timbul tidak dalam urutan diatas dapat dianggap bukan preeklamsi.
Dari gejala tersebut timbur hipertensi dan proteinuria merupakan gejala yang paling penting. Namun, penderita serinhkali tidak merasakan perubahan ini. Bila penderita sudah mengeluh adanya gangguan nyeri kepala, gangguan penglihatan atau nyeri epigastrium, maka penyakit ini sudah cukup lanjut.
3. Klasifikasi Pre-Eklamsia dan Eklamsia
1. Pre-eklampsia
¢ Pre-eklampsia ringan,suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibatterjadinya vasospame pembuluh darah dan aktivitas endotel.
diagnosis : diagnosis pre eklamsi ringan di tegakkan berasar atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria atau edema setelah kehamilan 20 minggu.
" hipertensi : sistolik / distolik >140/90 mmHg
" protenuria : >300 mg/24 jam
" edema : edema local tidak dimasukkan dalam criteria pre eklamsi,kecuali edema pada lengan,muka,dan perut,edema generalisata.
¢ pre eklampsia berat,adalah pre ekalmpsia dengan tekanan darah sistolik lebih dari >160 mmHg dan tekanan darah distolik >110 mmHg
" proteinuria : lebih dari 5 gr /24 jam
" Oliguria
" kenaikan kadar kreatinin plasma
" gangguan fisus dan serebral
" nyeri epigastrium
" edema paru-paru dan sianosis
" hemolisis mikroagiopatrik
" trombositopenia berat
" gangguan fungsi hepar
" pertumbuhan janin intra uterus terhambat
2. Eklampsi
KlasifikasiMenurut saat terjadinya eklampsia kita mengenal istilah:
1. Eklampsia ante partum ialah eklampsi yang terjadi sebelum persalinan (paling sering setelah 20 minggu kehamilan)
2. Eklampsia intrapartum ialah eklampsia sewaktu persalinan.
3. Eklampsia postpartum, eklampsia setelah persalinan.
4. Tanda-tanda Pre-Eklamsia dan Eklamsia
1. Pre-ekalampsia
Menurut Williams, 2002 : 399, diagnosis preeklamsi ditegakan berdasarkan adanya dua dari empat gejala, yaitu:
1) Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali.
2) Edema, terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka.
3) Hipertensi, tekanan darah ? 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat >30 mmHg atau tekanan diastolic >15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit.
4) Proteiunuria bila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan menunjukan+1 atau 2; atau kadar protein ?1g/l dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter, diambil minimal dua kali dengan jarak waktu 6 jam.
Disebut preeklamsi berat bila ditemukan gejala berikut:
a) Tekanan darah sistolik ?160 mmHg dan diastolic ?110 mmHg.
b) Proteinuria +?5 gram/24 jam
c) Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan.
d) Nyeri epigastrium dan icterus.
e) Edema paru atau sianosis.
f) Trombositipenia.
g) Pertumbuhan janin terlambat.
Perubahan pada organ-organ
1. Otak
Pada pre-eklamsi aliran darah dan pemakaian oksigen tetap dalam batas-batas normal. Pada eklamsi resistensi pembuluh darah meninggi, ini terjadi pula pada pembuluh darah otak. Edema yang terjadi pada otak dapat menimbulkan kelainan serebral dan gangguan visus, bahkan pada keadaan lanjut dapat terjadi perdarahan.
2. Plasenta dan rahim.
Aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan plasenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada pre-eklamsi dan eklamsi sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaannya terhadap rangsang, sehingga terjadi partus prematurus.
3. Ginjal.
Filtrasi glomerulus berkurang oleh karena aliran ke ginjal menurun. Hal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerulus menurun, sebagai akibatnya terjadilah retensi garam dan air. Filtrasi glomerulus dapat turun sampai 50% dan normal sehingga pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria dan anuria.
4. Paru-paru.
Kematian ibu pada pre-eklamsi dan eklamsi biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Bisa pula karena terjadinya aspirasi pnemonia atau abses paru.
5. Mata
Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Bila terdapat hal-hal tersebut, maka harus dicurigai terjadinya pre-eklamsi berat Pada eklamsi dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan edema intra-okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Gejala lain yang dapat menunjukkan tanda pre-eklamsi berat yang mengarah pada eklamsi adalah adanya skotoma, diplopia, dan ambliopia. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau di dalam retina
6. Keseimbangan air dan elektrolit.
Pada pre-eklamsi ringan biasanya tidak dijumpai perubahan yang nyata pada metabolisme air, elektrolit, kristaloid, dan protein serum. Jadi, tidak terjadi gangguan keseimbangan elektrolit. Gula darah, kadar natrium bikarbonat, dan pH darah berada pada batas normal. Pada pre-eklamsi berat dan eklamsi, kadar gula darah naik sementara. asam laktat dan asam organik lainnya naik, sehingga cadangan alkali akan turun. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh kejang-kejang. Setelah konvulsi selesai zat-zat organik dioksidasi, dan dilepaskan natrium yang lalu bereaksi dengan karbonik sehingga terbentuk natrium. bikarbonat. Dengan demikian cadangan alkali dapat kembali pulih normal.
Oleh beberapa penulis/ahli kadar asam urat dalam darah dipakai untuk menentukan arah pre-eklamsi menjadi baik atau tidak setelah diberikan penanganan.
2. Eklampsi
Gejala klinis Eklamsi adalah sebagai berikut:
1) Terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih
2) Terdapat tanda-tanda pre eklamsi ( hipertensi, edema, proteinuri, sakit kepala yang berat, penglihatan kabur, nyeri ulu hati, kegelisahan atu hiperefleksi)
3) Kejang-kejang atau koma
Kejang dalam eklamsi ada 4 tingkat, meliputi:
a) Tingkat awal atau aura (invasi). Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat (pandangan kosong) kelopak mata dan tangan bergetar, kepala diputar kekanan dan kekiri.
b) Stadium kejang tonik
Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku tangan menggenggam dan kaki membengkok kedalam, pernafasan berhenti muka mulai kelihatan sianosis, lodah dapat trgigit, berlangsung kira-kira 20-30 detik.
c) Stadium kejang klonik
Semua otot berkontraksi dan berulang ulang dalam waktu yang cepat, mulut terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa dan lidah dapat tergigit. Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah berlangsung selama 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar, menarik mafas seperti mendengkur.
d) Stadium koma
Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang antara kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita tetap dalam keadaan koma.
e) Kadang kadang disertai dengan gangguan fungsi organ.
5. Patofisiologi
Pada pre-eklamsi terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalmai spasme, maka tekanan darah dengan akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenisasi jaringan dapat dicukupi.
Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstisial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi ari dan garam. proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus.
Pada pre eklampsia terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi peningkatan hematokrit. Perubahan ini menyebabkan penurunan perfusi ke organ , termasuk ke utero plasental fatal unit. Vasospasme merupakan dasar dari timbulnya proses pre eklampsia. Konstriksi vaskuler menyebabkan resistensi aliran darah dan timbulnya hipertensi arterial. Vasospasme dapat diakibatkan karena adanya peningkatan sensitifitas dari sirculating pressors. Pre eklampsia yang berat dapat mengakibatkan kerusakan organ tubuh yang lain. Gangguan perfusi plasenta dapat sebagai pemicu timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat terjadinya Intra Uterin Growth Retardation.
Patofisiologi preeklamsia-eklamsia setidaknya berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskuler sistemik, peningkatan curah jantung, dan penurunan tekanan osmotik koloid. Pada preeklamsia, volume plasma yang beredar menurun, sehingga terjadi hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini membuat perfusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin-uteroplasenta. Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun.
Predisposisi genetik dapat merupakan fakktor imunologi lain( Chesley, 1984 ). Sibai menemukan adanya frekuensi preeklamsia dan eklamsia pada anak dan cucu wanita yang memiliki riwayat eklampsia, yang menunjukkan suatu gen resesif autosom yang mengatur respons imun maternal.
6. Komplikasi Pre-Eklamsia dan Eklamsia
Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin, usaha utama ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita pre eklampsia dan eklampsia. Komplikasi yang tersebut di bawah ini biasanya terjadi pada pre eklampsia berat dan eklampsia :
1. Solusio plasenta
Karena adanya takanan darah tinggi, maka pembuluh darah dapat mudah pecah, sehingga terjadi hematom retropalsenta yang dapat menyebabkan sebagian plasenta dapat terlepas.
2. Hipofibrinogenemia
Adanya kekurangan fibrinogen yang beredar dalam darah , biasanya di bawah 100 mg persen. Sehingga pemeriksaan kadar fibrinogen harus secara berkala.
3. Hemolisis
Kerusakan atau penghancuran sel darah merah karena gangguan integritas membran sel darah merah yang menyebabkan pelepasan hemoglobin. Menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karena ikterus.
4. Perdarahan otak
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal pada penderita eklampsia.
5. Kelainan mata
Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina yang merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri.
6. Edema paru - paru
7. Nekrosis hati
Nekrosis periportal hati pada eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim-enzimnya.
8. Sindroma HELLP
Merupakan suatu kerusakan multisistem dengan tanda-tanda : hemolisis, peningkatan enzim hati, dan trombositopenia yang diakibatkan disfungsi endotel sistemik. Sindroma HELLP dapat timbul pada pertengahan kehamilan trimester dua sampai beberapa hari setelah melahirkan.
9. Kelainan ginjal
Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.
10. Kopmlikasi lain yaitu lidah tergigit, trauma dan fraktur karena jatuh akibat kejang - kejang pneumonia aspirasi, dan DIC.
11. Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra uterin.
7. Penatalaksanaan Pre-Eklamsia dan Eklamsia
1. Penatalaksana Pre-Eklampsia
1. Rawat jalan (pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu)
a. Banyak istirahat (berbaring/ tidur miring)
b. Diet biasa
c. Dilakukan pemeriksaan feotal assessment (USG dan NST) setiap 2 minggu.
d. Pemeriksaan Laboratorium : Darah lengkap, homosistein, urine lengkap, fungsi ginjal, gula darah acak.
e. Kunjungan ulang setiap 1 minggu
f. Jika terdapat peningkatan proteinuria dirawat sebagai pre eklampsia berat.
2. Rawat tinggal
a. Kriteria untuk rawat tinggal
" Hasil feotal assessment meragukan atau jelek dilakukan terminasi.
" Kecendrungan menuju gejala preeklampsia berat (timbul salah satu atau lebih gejala preeklampsia berat)
" Bila dalam 2 x kunjungan tidak ada perbaikan (2 minggu)
b. Evaluasi/ pengobatan selama rawat tinggal.
" Tirah baring total
" Pemeriksaan laboratorium:
o Darah lengkap
o Hemosistein
o Fungsi hati/ ginjal
o Urine lengkap
" Dilakukan fetal assessment (USG dan NST)
" Dilakukan pemeriksaan indeks getosis.
3. Evaluasi hasil pengobatan
Pada dasarnya evaluasi pengobatan dilakukan berdasarkan hasil dari fetal assessment. Bila didaptkan hasil:
a) Jelek, dilakukan terminasi kehamilan.
b) Ragu-ragu, dilakukan evaluasi ulang NST kesejahteraan janin, 1 hari kemudian
c) Baik:
" penderita dirawat sekurang-kurangnya 4 hari
" bila preterm pendertita dipulangkan
" bila aterm dengan PS baik lebih dari 5 dilakukan terminasi dengan oksitosin drip
d) bila didapatkan keluhan subjektif seperti dibawah ini dirawat sebagai pre eklampsi berat
" nyeri ulu hati
" mata berkunag-kunang
" irritable
" sakit kepala
e) bila umur kehamilan aterm lebih dari 37 minggu (langsung dilakukan terminasi kehamilan)
Penanganan preeklampsia ringan jika kehamilan <37 minggu, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan:
? Pantau tekanan darah, proteinuria, refleks da kondisi janin.
? Lebih banyak istirahat
? Diet biasa
? Tidak perlu di beri obat-obatan
? Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit:
o Diet biasa
o Pantau TD 2 kali sehari, proteinuria 1 x sehari
o TTTidak perlu obat-obatan
o Tidak perlu diuretic, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut
o Jika tekanan diastolic turun sampai normal pasien dapat dipulangkan
? Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsia berat
? Kontrol 2 kali seminggu
? Jika tekanan diastolic naik lagi?rawat kembali
" Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan? tetapkan dirawat
" Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan
" Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsi berate
" Jika kehamilan >37 minggu, pertimbangkan terminasi
" Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500 ml dextrose IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.
" Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter voly atau terminasi dengan Seksio Caesaria.
Pencegahan
" Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (pre-eklamsi ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
" Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklamsi kalau ada faktor-faktor predisposisi.
" Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi ptortein juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebih.
2. Penatalaksaan Eklamsi
Tujuan utama pengobatan eklampsi adalah menghentikan berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman setelah keadaan ibu mengijinkan.Pengawasan dan perawatan yang intensif sangat penting bagi penanganan penderita eklampsi, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Pada pengangkutan ke rumah sakit diperlukan obat penenang yang cukup untuk menghindarkan timbulnya kejang, penderita dalam ha ini dapat diberi diazepam 20 mg 1 M. selain itu, penderita harus disertai oleh seorang tenaga yang terampil dalam resusitasi dan yang dapat mencegah terjadinya trauma apabila terjadi serangan kejang.Tujuan pertama pengobatan eklampsi adalah menghentikan kejangan, mengurangi vasovasmus, dan meningkatkan dieresis. Pertolongan yang perlu diperhatikan jika timbul kejang ialah mempertahankan jalan pernafasan bebas, menghindarkan tergigitnya lidah, pemberian oksigen, dan menjaga agar penderita tidak mengalami trauma. Untuk menjaga jangan sampai terjadi kejangan lagi yang selanjutnya.
Prinsip penatalaksanaan :
1. Penderita eklampsi harus dirawat inap di rumah sakit.
2. Pengangkutan ke rumah sakit.
Sebelum dikirim, berikan obat penenang untuk mencegah serangan kejang-kejang selama dalam perjalanan, yaitu pethidin 100 mg atau luminal 200 mg atau morfin 10 mg.
3. Tujuan perawatan di rumah sakit ialah menghentikan konvulsi, mengurangi vasospasme, meningkatkan dieresis, mencegah infeksi, memberikan pengobatan yang cepat dan tepat, serta melakukan terminasi kehamilan setelah 4 jam serangan kejang yang terakhir, dengan tidak memperhitungkan tuanya kehamilan.
4. Sesampainya di rumah sakit, pertolongan pertama adalalah :
a. Membersihkan dan melapangkan jalan pernapasan.
b. Menghindarkan lidah tergigit dengan mennberikan tough spatel.
c. Pemberian oksigen
d. Pemasangan infuse dektrosa atauglukosa 10%,20%,40%.
e. Menjaga agar jangan sampai terjadi trauma, serta dipasang kateter tetap(dauer catheter).
5. Observasi penderita
Observasi penderita dilakukan di dalam kamar isolasi yang tenag, dengan lampu redup(tidak terang), jauh dari kebisingan dan rangsangan . kemudian dibuat catatan setiap 30 menit berisi tensi, nadi, respirasi, suhu badan. Reflex, dan dieresis. Bila memungkinkan dilakukan funduskopi sekalli sehari. Juga dicatat tingkat kesadaran danjumlah kejang yang terjadi. Pemberiaan cairan disesuaikan dengan jumlah dieresis, pada umumnya 2 liter dalam 24 jam. Kadar protein urin diperiksa dalam 24 jam kuantatif.
6. Regim-regim pengobatan :
a) Regim sufas magnesikus.
Kegunaan MgSO4 adalah untuk mengurangi kepekaan syaraf pust agar dapat mencegah konvulsi, menurunkan tekanan darah, menambah deuresis, kecuali bila ada anuria, dan untuk menurunkan pernafasan yang cepat.
Dosis inisial yang diberikan ialah 8 g dalam larutan 40 % secara IM ; selanjutnya tiap 6 jam 4 g, dengan syarat, refleks patella masih (+), pernafasan 16 / lebih per menit, diuresis harus melebihi 600 ml / hari ; selain IM, sulfas magnesicus dapat diberikan secara intravena; dosis inisial yang diberikan adalah 4 g 40% MgSO4 dalam larutan 10 ml intravena secara perlahan-lahan, diikuti 8 g IM dan selalu disediakan kalsium glukonas 1 g dalam 10 ml sebagai antidotum.
b) Regim sodium pentotal.
Kerja pentotal sodium adalah untuk menghentikan kejang dengan segera. Obat ini hanya diberikan di rumah sakit, karena cukup berbahaya, dapat menghentikan nafas (apnea). Dosis inisial suntikan intravena perlahan-lahan sodium pentotal 2,5% adalah sebanyak 0,2-0,3 gr. Dengan infus secara tetes (drips) .
c) Regim valium (diazepam).
Dengan dosis 40 mg dalam 500 cc glukosa 10% dengan tetesan 30 tetes per menit. Seterusnya diberikan setiap 2 jam 10 mg dalam infuse atau suntikan i.m, sampai tidak ada kejang. Obat ini cukup aman.
d) Regim litik koktil (lytic cocktail)
Pethidin (100 mg) + chlorpromazine(50 mg) + promezathin (50 mg),
dilarutkan dalam glukosa 5 % 500 ml dan diberikan secara infus IV. Jumlah tetesan disesuaikan dengan keadaan dan tensi penderita. Maka dari itu, tensi dan nadi diukur tiap 5 menit dalam waktu setengah jam pertama dan bila keadaan sudah stabil, pengukuran dapat dijarangkan menurut keadaan penderita.
e) Regim stroganoff
" Pertama kali morfin 20 mg subkutan.
" ½ jam setelah langkah 1 MgSO4 15% 40 cc subcutan.
" 2 jam setelah langkah 1 morfin 20 mg subcutan.
" 5 ½ jam setelah langkah 1 MgSO4 15% 20-40cc subcutan.
" 11 ½ jam setelah langkah 1 MgSO4 15% 10 cc subcutan.
" 19 jam setelah langkah 1 MgSO4 15% 10 cc subcutan.
Lama pengobatan ini adalah 19 jam, cara ini sekarang sudah jarang dipakai.
7. Pemberian antibiotika
Untuk mencegah infeksi diberikan antibiotika dosis tinggi setiap hari yaitu penisilin prokain 1.2-2,4 juta satuan.
8. Penanganan obtetrik
Setelah pengobatan terdahulu, dilakukan penilaian tentang status obstetrikuspenderita : keadaan janin, keadaan serviks dan sebagainya. Setelah kejang dapat diatasi, keadaan umum penderita diperbaiki, kemudian direncanakan untuk mengakhiri kehamilan atau mempercepat jalannya persalinan dengan cara yang aman. Langkah-langkah yang dapat diambil adalah :
a. Apabila pada pemeriksaan, syarat-syarat untuk mengakhiri persalinan pervaginam dipenuhi maka dilakukan persalinan tindakan dengan trauma yang minimal.
b. Apabila penderita sudah inpartu pada fase aktif langsung dilakukan amniotomi selanjutnya diikuti sesuai dengan kurva dari Friedman, bila ada kemacetan dilakukan seksio sesar.
c. Kala II harus dipersingkat dengan ekstrasi vacuum atau forceps. Bila janin mati dilakukan embriotomi.
d. Bila serviks masih tertutup dan lancip (pada primi),serta kepala janin masih tinggi atau ada kesan terdapat disproporsi sefalovelvik, atau ada indikasi obstetric lainnya, sebaiknya dilakukan seksio sesarea(bila janin hidup). Anastesi yang dipakai local atau umum dikonsultasikan dengan ahli anestesi.
Pencegahan
Mencegah timbulnya eklampsi jauh lebih penting dari mengobatinya, karena sekai ibu mendapat serangan, maka prognosis akan jauh lebih buruk. Pada umumnya eklampsi dapat dicegah atau frekuensinya dapat diturunkan. Upaya-upaya untuk menurunkannya adalah dengan ;
1. Memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat, bahwa eklampsi bukanlah suatu penyakit kemasukan (magis), seperti banyak disangka oleh masyarakat awam.
2. Meningkatkan jumlah poliklinik (balai) pemeriksaan ibu hamil serta mengusahakan agar semua ibu hamil memeriksakan kehamilannya sejak hamil muda.
3. Pelayanan kebidanan bermutu, yaitu pada tiap-tiap pemeriksaan kehamilan diamati tanda-tansa preeklampsi dan mengobatinya sedini mungkin.
8. Program Pemerintah
Program pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu yaitu:
1. Safe Motherhood/ Making Pregnancy Safer (MPS)
Pemerintah Indonesia dan Unicef telah membuat kesepakatan untuk menurunkan tingkat kematian ibu di Indonesia yang merupakan priorotas nomor satu dalam persetujuan kerjasamanya. AUSAID mendanai program safe motherhood di empat provinsi dengan tingkat kematian ibu yang tinggi dan tidak dapat ditolerir, yaitu Jawa Barat, Banten, Maluku dan Papua. Maluku dan Papua merupakan dua di antara sekian provinsi di Indonesia yang penduduknya sedikit dan tersebar di wilayah yang mencakup daratan dan lautan. Sementara jumlah keseluruhan perempuan yang mati akibat melahirkan di dua provinsi ini berkurang, tingkat kematian ibu melahirkannya tetap lebih tinggi dari rata-rata tingkat nasional.
Menanggapi tingginya tingkat kematian ibu melahirkan di provinsi-provinsi tersebut, program safe motherhood ditujukan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan dinas-dinas pemerintah di tingkat kabupaten dan yang lebih rendah, sehingga dapat mengurangi tingkat kematian ibu, bayi dan balita.
Program safe motherhood bertujuan untuk mengurangi tingkat kematian ibu dengan cara:
1) Meningkatkan mutu dari, dan akses ke pelayanan perawatan kesehatan ibu dan bayi.
2) Mendukung jangkauan dan kapasitas bidan di desa dan dukun bayi.
3) Memberdayakan masyarakat untuk mengenali kesulitan-kesulitan selama masa kehamilan dan persalinan agar dapat mengambil tindakan tepat guna membantu ibu dan bayi.
4) Memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam merencanakan, melaksanakan, mengelola dan mengawasi program persalinan yang aman
2. Gerakan Sayang Ibu (GSI)
GSI adalah suatu gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat, bekerja sama dengan pemerintah untuk meningkatkan perbaikan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan AKI karena hamil, melahirkan, dan nifas
Unsur ke-1 GSI: Dilaksanakan masyarakat dan pemerintah. Masyarakat aktif sebagai pelaku, tidak hanya sasaran; diserahkan secara bertahap dari pemerintah ke masyarakat; perlu waktu panjang, konsisten dan intensif.
Unsur ke-2 GSI: Meningkatkan kualitas hidup perempuan. Penyadaran atas hak-hak reproduksi perempuan; perencanaan kehamilan dan kelahiran yang baik; perawatan bayi yang baik
Unsur ke-3 GSI: Mempercepat penurunan AKI, karena kehamilan,
melahirkan, dan nifas
3. Meningkatkan Akses Masyarakat Miskin
Kebijakan yang ditempuh adalah denganpengembangan sistem jaminan kesehatan. Metode layanan kesehatan ini telah dimulai sejakterjadinya krisis eknonomi pada tahun 1998, melalui Program Jaring Pengaman Sosial yaitudengan memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada penduduk miskin. Dalam RPJMN
2004-2009, program ini terus dilanjutkan dan ditingkatkan dengan sistem asuransi kesehatan
4. Audit Maternal Perinatal
Audit Maternal Perinatal menurut istilah di bidang kesehatan yaitu proses penelaahan bersama kasus kesakitan dan kematian ibu dan perinatal serta pelaksanaannya. Tujuan umum meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) untuk mencegah terjadinya kematian ibu dan balita. Sedangkan tujuan khusus menerapkan pembahasan analitik mengenai kasus kebidanan dan perinatal secara tertatur dan kontinyu, menentukan intervensi untuk masing-masing pihak untuk mengatasi kasus yang ditemukan serta mengoptimalkan koordinasi antara Din Kes, RS dan puskesmas dalam peoses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi.
BAB III
PENUTUP
2. Kesimpulan
Eklampsia adalah bentuk kelanjutan dari preeclampsia yang disertai dengan keadaan kejang tonik-klonik (grand mal ) yang disusul dengan koma. Kejang di sini bukan akibat kelainan neurologis (saraf) dan dapat muncul sebelum, selama, dan setelah kehamilan. Namun kejang yang timbul lebih dari 48 jam postpartum, terutama pada nulipara, dapat dijumpai sampai 10 hari postpartum. Akibat eklampsi ada tejadi gangguan-gangguan pada organ tubuh seorang ibu hamil, yaitu gangguan pada otak, plasenta dan rahim, ginjal, paru-paru, mata dan keseimbangan air dan elektrolit.
Sedangkan yang dimaksud dengan preeclampsia adalah hipertensi disertai proteinuridan edema (penimbunan cairan dalam cairan tubuh sehingga ada pembengkakan pada tungkaidan kaki) akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan.Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblastik (kelainan plasenta).Fatal coma tanpa kejang juga bisa diartikan sebagai eclampsia. Tetapi perlu ada batasan untuk mendiagnosis wanita dengan kejang dan memperhatikan kematian tanpa kejang yang disebabkanoleh preeklampsia berat (PEB).
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, odema, dan protein urine yang timbul karena kehamilan, penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan. Preeklampsia juga merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi pada masa ante, intra dan post partum.
Preeklamsi berakibat fatal jika tidak segera ditindak. Ia merusak plasenta sehingga menyebabkan bayi lahir dalam keadaan tidak bernyawa, atau lahir prematur, penyakit ini juga membahayakan ginjal ibu hamil. Pada beberapa kasus, bisa menyebabkan ibu hamil mengalami koma. Pre eklamsi adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Pre eklamsi dan eklamsi adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung disebabkan oleh kehamilan.
Pre eklamsi dan eklamsi hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada nullipara. Biasanya terdapat pada wanita usia subur dengan umur ekstrem, yaitu pada remaja belasan tahun atau pada wanita yang berumur lebih dari 35 tahun. Pada multipara biasanya dijumpai pada keadaan-keadaan : kehamilan multifetal dan hidrop fetalis, penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus, penyakit ginjal.
Daftar pustaka
Mochtar,Rustam.1998.SINOPSIS OBSTETRI:obstetri fisiologis dan obstetri patologis.Jakarta:EGC
Fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.1984.BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI.Bandug:Elstar Offset
Saifuddin,Bari,dkk.2002.Buku panduan praktis Pelayanan kesehatan maternatal dan neonatal.Jakarta:Tridarsa Printer
Prawirohardjo,Sarwono.2006.buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternatal dan neonatal.Jakarta:Yayasan Bina PustakaSarwono
Varney, helen. 2006. Buku ajar asuhan kebidanan. Jakarta : EGC
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thank's for ur coment,,,